Cara Mengambil Foto yang Baik dan Menarik

Photographer, camera on hand

Photographer, camera on hand. work and travel concept.

HOBIKU.NET – Foto yang baik belum tentu menarik, sedangkan foto yang menarik adalah foto yang baik. Perdebatan yang sering mencuat dalam fotografi adalah tentang konsep foto yang baik dan menarik. Banyak pakar fotografi saling menawarkan konsepnya, tetapi hingga kini belum didapatkan titik temu apa dan bagaimana foto yang baik itu?

Kalangan awam yang umumnya memotret dengan kamera kompak atau kamera saku akan berpendapat foto yang baik adalah foto yang jelas dan gambarnya tajam. Komposisi objek harus di tengah, wajah yang dipotret terlihat ceria, ataupun menyenangkan yang dipotret dan pemotret jika tidak memenuhi semua itu atau salah satu di antaranya, kalangan awam menganggap foto tersebut tidak baik atau jelek.

Pendapat kalangan awam bahwa foto yang baik adalah foto dengan komposisi objek harus di tengah dan horizontal disebabkan oleh terbiasanya orang melihat langsung ke bagian tengah. Jika objek berada di pinggir, akan terasa asing di mata dan kurang enak dilihat.

Sebaliknya, kalangan peminat fotografi serius selalu bereksperimen dalam komposisi foto. Meskipun sebenarnya di antara mereka pun masih timbul perdebatan tentang komposisi. Ada yang memandang suatu objek lebih baik dan indah jika dibuat dengan komposisi horizontal, tetapi ada pula yang berpendapat sebaliknya. Perdebatan ini disebabkan selera dan kebiasaan masing-masing pihak.

Demikian pula dalam masalah pencahayaan. Kalangan awam hanya

mengandalkan lampu kilat yang terpasang langsung pada kamera

kompak. Mereka tidak pusing apakah cahaya itu berlebihan atau kurang karena percaya pada kerja automatis kamera.

Bagi kalangan peminat serius fotografi, pencahayaan merupakan faktor yang sangat penting. Bukankah inti fotografi adalah pemanfaatan cahaya? Banyak teori tentang pencahayaan. Pencahayaan dari arah depan, belakang, samping, atas, atau bawah objek, serta pencahayaan alami dan buatan. Masing-masing pencahayaan akan memunculkan kesan tersendiri bagi sebuah foto.

Pemotret yang biasa memanfaatkan cahaya alami akan melihat foto berpencahayaan buatan kurang baik sehingga mereka kurang puas dengan hasil yang didapatkan dan ini juga berlaku sebaliknya. Masing masing mempunyai ukuran sendiri.

Pada awalnya, penggunaan efek khusus mempesona banyak pengs gemar fotografi. Namun, kemudian muncul perdebatan karena efek khusus menjadikan foto tidak lagi tampil jujur dan alamiah. Padahal, salah satu hingsi foto adalah sebagai saksi suatu peristiwa dan keadaan di suatu masa.

Bagi peminat serius fotografi, foto adalah seni sehingga persyaratan untuk disebut sebagai foto yang baik tidak lagi menjadi sederhana. Untuk mendapatkan hasil foto yang baik, selain persyaratan teknis diperlukan juga persyaratan nonteknis. Persyaratan teknis adalah syarat yang harus memenuhi kaidah fotografi, seperti pengaturan diafragma, kecepatan/ rana, dan pemilihan kepekaan film dalam menerima cahaya yang diukur dalam International Standard Organization (ISO)/American Standard Association (ASA) film. Persyaratan itu juga disebut sebagai unsur intrinsik.

Persyaratan nonteknis merupakan syarat pengetahuan yang harus dimiliki fotografer di luar persyaratan teknis ketika akan mengambil tema atau objek tertentu. Misalnya, seorang fotografer yang akan mengambil tema tentang bangunan maka ia harus menguasai masalah arsitektur. Persyaratan tersebut juga disebut sebagai unsur ekstrinsik.

Dari sinilah terlihat perbedaan antara kalangan awam dengan peminat fotografi serius tentang apa dan bagaimana foto yang baik.

2. Pendapat fotografer profesional tentang foto yang baik Berikut ini diuraikan beberapa pendapat fotografer profesional tentang foto yang baik yang dikumpulkan dari berbagai media massa. Edwin Djuanda, fotografer profesional, menyatakan bahwa foto yang baik adalah foto yang enak dilihat, biasanya merupakan hasil dari:

pemotretan yang kebetulan (lucky/shot) dan

b. pemotretan yang sudah direncanakan (pada saat memotret, fotografer sudah mengetahui bagaimana kira-kira hasil akhir pemotretannya).

Untuk menjadi foto yang enak dilihat, diperlukan faktor penunjang. Faktor penunjang tersebut di antaranya komposisi, pencahayaan, ketajaman (jika memang diperlukan karena terkadang ada beberapa bagian foto yang memang tidak perlu terlihat tajam), dan ketepatan momen. Semuanya ini harus dipelajari serta dituntut pengetahuan dan keterampilan fotografer untuk memperoleh hasil yang diharapkan.

Paul I. Zacharia membagi-bagi foto ke dalam berbagai kategori. Untuk foto jurnalistik, Paul menganggap ketepatan saat menjepretkan kamera akan membedakan satu foto yang bagus dengan foto yang biasa-biasa saja. Foto pemandangan alam akan lebih mengutamakan kehalusan butir filmnya dan foto dokumentasi mengutamakan ketajaman gambar di segala bagian foto. Selain itu, Paul menekankan perlunya ide dalam sebuah foto. Ide dalam menciptakan sebuah foto adalah hal yang paling jarang muncul pada karya-karya pemula.

Menurut Hani Moniaga, Visi seorang fotografer akan membuat karyanya berbeda dengan karya orang lain dan tidak menjadi sekedar pengikut. Visi adalah ide yang orisinal dan didapat dari pengalaman setelah memotret beberapa waktu. Bagi Hani Moniaga, teknik fotografi yang meliputi pencahayaan, mutu cetak, dan komposisi bisa menjadi nomor dua, sementara ekspresi sang foto sendiri menjadi hal yang paling utama.

Pada saat merencanakan pemotretan, fotografer hendaknya memperlakukan model sebagai subjek, bukan hanya sebagai objek. Objek memberikan pengertian pada keseluruhan yang bisa dilihat oleh mata telanjang atau sesuatu untuk dieksploitasi. Subjek mengacu pada sesuatu yang sudah dibingkai pada jendela bidik (sudah di-framing), dan Anda membiarkannya tetap berjiwa (tidak menjadikannya berdasarkan kemauan Anda). Pengertian subjek pun tidak selalu untuk makhluk hidup. Pemandangan alam pun jika dilihat melalui kamera, seharusnya diperlakukan sebagai subjek, bukan objek.

Darwis Triadi, Ketua Asosiasi Fotografer Profesional Indonesia (APPI), mengatakan bahwa foto yang baik adalah foto yang secara teknis

bagus dan memenuhi syarat-syarat estetika.]adi, definisi foto yang baik
sangat relatif dan menyangkut selera. Namun, foto yang baik pada dasarnya harus memiliki dasar teknik dan mempunyai nilai estetika. Edwin Rahardjo berpendapat bahwa definisi foto yang bagus itu tidak ada. Menurutnya, sebuah foto yang bagus bagi satu orang, bisa saja buruk bagi orang lain sehingga pendapat terbanyak yang akan memenangkan suatu definisi. Cara yang paling mudah untuk mendapatkan ketegasan apakah sebuah foto bagus atau tidak adalah dengan meminta pendapat beberapa orang yang mengerti seni atau memang berpengalaman untuk itu. Berdasarkan berbagai pendapat di atas, tampaknya tidak ada kesamaan pendapat mengenai baik dan tidak baik-nya sebuah foto. Hal inilah yang memang akan selalu terjadi. Namun, untuk menengahi berbagai pendapat tersebut, Aslam Subandi menyatakan bahwa foto yang baik adalah foto yang memenuhi kriteria berikut. a. Enak dilihat (pendapat Edwin Rahardjo). b. Mayoritas pendapat yang “mengerti” menyatakan foto tersebut memang foto yang baik. Ini berlaku umum pada lomba-lomba foto, saat mayoritas juri menyatakan foto tersebut baik (pendapat)